Lilypie Angel and Memorial tickers

Pemburu Gelaran Bidadari Syurga

Wahai wanita solehah 'Bidadari Bumi'
Bakar semangatmu untuk mengejar langkah sang bidadari
Jangan hanya diam dan menunggu keajaiban
Perlu usaha!
Tak akan ada kesempatan sebelum kau jemput sendiri...
Jangan biar dirimu tertinggal di belakang sang bidadari
Kau akan bangga mengukir namamu di syurga Izzatul Rabbi
sebagai wanita solehah berhasil meraih gelaran
SANG BIDADARI!

Laman

Friday, May 28, 2010

Lollipop ku sayang,.,, menyubur cintaku di jalan dakwah ;)


Bismillahirahmanirahim
Assalamu'alaikum
SubhanALLAH, Alhamdulillah, Allahuakhbar
mohon kemaafan kepada para pengunjung "salju sakinah". Hampir berhabuk dan bersawang blog ini rasanya. Kerana sedikit kekangan masa, salju sakinah terbiar begitu saja. Tidak.. hati ini amat merindukan dan mendambakan salju sakinah. Cuma tidak ada kesempatan untuk menulis.

Semalam telah berakhirnya Minggu Aluan Pelajar (MAP) untuk Pusat Asasi UNIMAS di mana diri ini berkesempatan untuk menjadi Liason Officer (L.O) buat pertama kalinya. Semasa minggu induksi iaitu minggu kursus untuk menjadi L.O, diri ini mengalami saat saat sukar. kerana jadual yang padat dan aktiviti yang berat Disebabkan kesihatan diri yang kurang baik dan mengalami kesan ubat yang kuat. Terkadang diri ini lemah. Bibir cepat kering, wajah cepat merah, badan cepat letih tetapi ALLAh tetap memberi peluang kepada diri ini untuk terus menghabiskan kursus induksi. Pernah terfikir untuk putus asa dalam menjadi L.O namun perancangan ALLAH itulah yang terbaik untuk hamba hambaNYA..

Bermulanya MAP Pusat Asasi UNIMAS di mana diri ini berpeluang bertugas sebagai unit pendaftaran dan fasilitator. Pada mulanya rasa kecewa kerana dalam hati kecil ini ingin sekali menjadi AJK Makanan :) kerana sudah menjadi sinonim dengan diri ini untuk bertugas dalam bidang makanan setiap kali majlis dan acara. Namun, ku sahut juga cabaran untuk menjadi fasilitator. Peraturan ALLAH itu terlalu indah sebenarnya.

"Bolej jadi kamu benci kepada sesuatu padahal ia baik bagi kamu dan boleh jadi kamu suka pada sesuatu padahal ia baik buruk bagi kamu, dan ingatlah, ALLAH jualah yang mengetahui semua itu dan kamu tidak mengetahui" 216:2


Menjadi fasilitator bermakna diri ini akan berada dekat dengan pelajar pelajar cemerlang ini. Terasa rendah diri sedikit dan amat takut sekiranya diri ini tidak dapat menepati citarasa jiwa jiwa muda dan penuh semangat ini. Adik adik ini sebenarnya permata berharga yang perlu dijaga dan digilap untuk memastikan mereka terus bersinar. Layakkah diri ini? Apatah lagi ada antara mereka yang baru pertama kali berpisah dengan ahli keluarga, adakah diri ini berjaya menjadi fasilitaor yang baik dan bisa mengubat kerinduan mereka

Pertama kali mengenali adik adik ini, ku sudah melihat potensi yang ada dalam diri mereka. Mereka generasi muda yang penuh semangat, mereka generasi muda yang ghairah dalam mencari ilmu dan merekalah juga generasi muda yang menjadi pemangkin kepada perubahan. Alhamdulillah.. setelah beberapa hari bersama mereka.. ku terasa berasa dekat sekali dengan mereka. Ukhuwah yang terbina ini, ku pohon agar diredhai ALLAH dan dibersihkan dari segala kemaksiatan dan kemungkaran. Sesungguhnya diri ini telah jatuh cinta pada generasi muda ini. Bukan mempunyai niat lain tetapi jatuh cinta kerana semangat, kerana kekreatifan dan kebijaksanan mereka. Adik adik dibawah jagaan ku ini menggelarkan diri mereka sebagai lollipop maka gelaran "Mama lollipop" begitu sinonim dengan diriku. Malah aku lebih selesa menggelar adik adik ini sebagai anak anakku kerana ku terasa lebih dekat dengan mereka melalui gelaran sebegitu. Kekadang ku berasa penat, sedih, benci dan sakit sepanjang MAP ini, namun apabila ku melihat wajah wajah manis mereka, senyuman manis mereka, terdengar gelak ketawa rang mereka, terhibur dengan telatah lucu mereka... segalanya terasa indah. Adik adik harapan bangsa dan agama inilah yang menjadi pemangkin semangat ku untuk terus bekerja semasa MAP.. terima kasih!

Buat buat anak anak lollipop ku yang manis
Terima kasih kerana memberi kenangan manis buat mama sepanjang MAP ini..
mama ingin memohon maaf atas segala salah silap dan keterlanjuran bersama kalian
Mohon maaf juga sekiranya mama tidak menepati citarasa kalian
Mama berharap ukhuwah yang kita bina ini, diredhai ALLAH dan akan kekal selamanya
Semoga anak anak sekalian berjaya di dunia dan di akhirat.
Terima kasih sebab sudi panggil "mama" .. macam nak praktis saja.. :D
dan mama sudah merindui kalian ..........


Tuesday, May 18, 2010

Kisah seorang wartawan yang menyamar menggunakan niqab


Sosok perempuan mengenakan baju abaya hitam lengkap dengan cadarnya menjadi pusat perhatian para pengunjung mall Itäkeskus di kota Helsinki, kota terbesar di negara Finlandia. Tak seorang pun tahu bahwa sosok dibalik niqab itu bukan seorang perempuan Muslim betulan tapi seorang wartawati, non-Muslim, dari surat kabar Helsingin Sanomat, salah satu surat kabar terbesar di kawasan Skandinavia.

Nama wartawati itu Katja Kuokkanen. Ia sengaja menyamar menjadi menjadi perempuan Muslim karena ingin merasakan sendiri bagaimana rasanya mengenakan busana muslim lengkap dengan cadarnya di tengah masyarakat Finlandia yang masih asing dengan agama Islam, bagaimana rasanya ditatap dengan pandangan aneh dan takut dari orang-orang disekitarnya. Kuokkanen menuliskan pengalaman dan perasaannya saat dan setelah mengenakan niqab. Inilah yang ditulisnya ...

Niqab dari bahan sifon berwarna hitam kadang melorot dan menutupi kedua mata saya. Suatu ketika saya tersandung dan membentur bahu seorang laki-laki di sebuah toko barang-barang etnik. Laki-laki itu membuat gerakan tangan meminta maaf, tapi dengan sikap tak acuh seperti yang biasa terjadi.

Lalu lelaki itu menengok ke arah saya dan menyadari bahwa saya seorang perempuan yang mengenakan abaya dan cadar, pakaian khas perempuan Muslim. Tiba-tiba laki-laki itu dengan sedikit membungkuk mengulangi lagi permohonan maafnya. Saya mengira dia orang Arab dari dialegnya saat meminta maaf. Saat itu saya merasakah hal yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya karena diperlakukan dengan begitu hormat oleh orang lain.


Dari toko etnis, saya menuju stasiun metro. Ketika saya naik ke sebuah metro berwarna oranye. Saya menerima reaksi yang tak terduga. Seoran

g lelaki mabuk berteriak kepada tiga temannya di dalam metro yang padat penumpang.

"Hei, lihat itu ada salah satu pemandangan neraka !" teriak lelaki mabuk tadi.

Mendengar teriakan itu, penumpang lain serta merta memalingkan pandangannya, tidak mau melihat ke arah wajah saya yang bercadar. Tapi tiba-tiba seorang perempuan menegur saya, "Barang Anda jatuh," kata seorang perempuan setengah baya sambil menyerahkan jepit rambut saya yang terjatuh di bangku sebelah.

Saya tidak bisa mengucapkan terima kasih pada perempuan itu, karena kalau saya mengatakan sesuatu, kemungkinan penyamaran saya akan terbongkar.

Lalu, ketika seorang gadis asal Somalia yang bekerja sebagai penjaga toko, membantu saya membetulkan cadar, ia berkata bahwa jarang sekali perempuan Muslim di Helsinki yang mengenakan busana seperti yang saya kenakan. Gadis Somalia itu juga bilang bahwa ia sebisa mungkin menghindari busana warna hitam. Ia menganggap warna hitam sebagai warna yang dramatis dan mengundang pandangan banyak orang.

"Kerudung warna-warni yang cerah lebih bagus," kata gadis itu seraya mengatakan bahwa kaum perempuan Muslim di Finlandia bebas menentukan sendiri untuk menutup bagian mukanya.

Dan di mall Itäkeskus, saya melihat banyak orang yang memandangi saya dengan tatapan aneh bahkan takut. Seorang lelaki muda hampir saja menumpahkan minuman kaleng yang dipegangnya saat melihat saya dengan raut muka panik.

Saya sendiri mulai membiasakan diri mengenakan abaya dan cadar. Saya mulai merasakan pakaian ini sangat nyaman dan hangat, meski saya agak kesulitan untuk melihat sesuatu dengan jelas karena cadar yang saya kenakan.

Kemudian saya memutuskan untuk pergi ke pasar yang dibuka di area parkir di lantai paling atas mall Puhos. Di penyeberangan jalan, saya bertemu dengan seorang perempuan tua asal Somalia yang dengan pelan mengucapkan "Assalamu'alaikum".



Saya tersentuh mendengar salam itu. Selama ini saya tidak pernah bergaul dengan perempuan Muslim. Dan saya selalu menerima salam seperti itu dalam banyak kesempatan. Setiap Muslimah dari berbagai usia dan dari berbagai etnis, yang mengenakan busana muslimah selalu mengucapkan "Assalmua'alaikum" saat berpapasan dengan saya. Ketika itu saya tidak mengerti apa arti ucapan itu, sampai saya akhirnya tahu bahwa ucapan itu mengandung doa kesejahteraan dan kesalamatan.

Lalu, seorang lelaki yang sedang berdiri di depan sebuah toko memanggil saya. "Hello ! Hei ! Tunggu!" teriak lelaki tadi. Saya tidak menoleh karena saya pikir seorang perempuan Muslim sangat menjaga kemuliaannya dan tidak akan menjawab panggilan seperti itu.

Beberapa jam setelah berkeliling dengan mengenakan busana abaya dan cadar, saya kembali ke stasiun Metro. Perjalanan saya selanjutnya adalah Kamppi Center.

Selama perjalanan, wartawati itu merenungkan pengalamannya sepanjang hari ini, atas reaksi setiap orang terhadap abaya dan cadar yang dikenakannya dan ia merasakan sendiri bahwa mengenakan abaya dan cadar rasanya tidak seburuk yang orang lain pikirkan. Ia pun tanpa ragu menegaskan, mengenakan abaya dan cadar, "Sama sekali tidak buruk. Jika Anda memakainya, Anda akan merasakan kedamaian."

Kisah ini menjadi ironi di saat negara-negara Eropa ramai-ramai mulai melarang jilbab dan cadar. Seharunya mereka yang memberlakukan larangan itu, membaca kisah wartawati Helsinki ini sehingga tidak perlu ada kebijakan larangan berjilbab atau bercadar yang sejatinya diberlakukan karena sikap Islamofobia masyarakat Barat. (ln/helsingin online)


Monologku: Betapa indahnya dan mulianya hijab dan niqob... mari kita bersama sama mempertahankan dan memperjuangkan hijab dan niqob!


Courtesy: http://www.eramuslim.com/akhwat/muslimah/ketika-seorang-wartawati-menyamar-mengenakan-cadar.htm

Picture: Google

Monday, May 17, 2010

Mujahidah.. teruskan mujahadahmu


Wahai mujahidah,
Bila ku melihat semangatmu yang berkobar-kobar
Hatiku pun ikut tercabar
Tercabar kerna ingin menjadi sepertimu

Kental semangatmu tidak disangsi
Tidak mengenal apa erti putus asa
Setiap kekurangan cuba kau perbaiki
Setiap kelemahan cuba kau atasi
Setiap kesilapan cuba kau hadapi

Aku bangga melihatmu
Seorang mujahidah yang berjuang
Demi untuk menolong Tuhanmu
Dan menjunjung sunnah nabimu

Halangan, cabaran, tohmahan kau tolak ke tepi
Semakin dicaci semakin teguh kau berdiri
Usahkan mundur
Setapak pun tak mungkin berundur
Sucinya hatimu wahai mujahidah

Seluruh masa, harta, tenaga dan usahamu
Ikhlas kau salurkan untuk-Nya
Keyakinanmu untuk mengembalikan
Islam kembali Pasti menjadi realiti
Hakikat itu pasti terjadi

Walaupun mungkin hayatmu tak kesampaian
Untuk menatap saat-saat kegemilangan
Namun itu bukan penghalang bagimu
Perananmu sudah kau laksanakan
Terserah kepada yang Esa untuk menentukannya
Berusahalah dan teruslah berusaha
Serahkan hasilnya kerana ia milik-Nya

Usah disesali harta yang telah kau infakkan
Usah ditangisi masa yang telah kau sumbangkan
Keyakinan terhadap janji Tuhanmu
Penawar bagi segala kedukaanmu

Syurgalah tempatmu
Istanamu teguh berdiri di sana
Para anbiya dan sahabat teman bicaramu
Pakaian indah pembalut tubuhmu
Makanlah dan minumlah semahumu
Semua untukmu Hanya untukmu
Yakinlah wahai mujahidah tercinta

Courtesy: www.iluvislam.com
Picture: Akhi Danang Kawantoro

Sunday, May 16, 2010

Karnival Aura Ungu 2010


Bismillahirahmanirahim
Alhamdulillah.. ada juga kekuatan untuk mengupdate "salju sakinah" daripada berhabuk. Kali ini sekadar hendak berkongsi berkenaan Karnival Aura Ungu 2010 anjuran Nisa' Malaysia yang akan berlangsung pada 21 dan 22 Mei.. Pelbagai aktiviti menarik disediakan..

Dan yang paling penting!

Jangan lupa kunjungi Booth NISA' Sabah.. macam macam ada!

monologku: sedihnya ana tak dapat pergi... rindu dengan sahabat sahabat Nisa' ;(


Salam Nisa' dari
Nisa' Sabah

Bismillahirrahmanirrahim..
Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah Lagi Maha Mengasihani..

Alhamdulillah, puja segala puji hanya untukNya. Yang memiliki seluruh alam ini. Selawat serta salam buat junjungan besar kita, manusia agung kekasih Allah, para sahabat dan keluarga baginda saw, serta seluruh tentera Allah di muka bumiNya yang Maha Luas ini.


Seiring hembusan bayu yang tiada henti bertasbih memuji keagunganNya, maka Nisa' Sabah muncul menyahut seruan dakwah dalam satu lagi siri metode perjuangan. Mencuba sesuatu.. Mencari ruang.. Mengisi kekosongan.. Andai di situ adanya Islam, pasti gerak tidak terhenti.

Semoga siri pertemuan selepas ini memberi makna mendalam.. Membawa erti hakiki..

-Salam Manis Seuntai Kasih Dari Nisa' Negeri Di Bawah Bayu-

Sunday, May 9, 2010

Turning point: Sebuah Perkahwinan

Alhamdulillah.. syukran ya ukhti Insyirah dari Haruman Mawar
Atas kebenaran yang diberikan pada ana untuk menyiarkan karya enti yang cukup bermakna dan penuh perkongsian. Moga kita sama sama bisa mengambil ibrah ~_^ .. selamat membaca!

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~



Bismillahirrahmanirrahim
.


Alhamdulillah, jemari kembali untuk ditarikan bersama semerbak haruman mawar. Sekadar berkongsi picisan buah fikiran yang dhoif dari si kecil yang jahil. Bicara soal perkahwinan seusia 20 tahun, muda sangatkah? Tak apa lah, sekadar buah fikiran dari si kecil, mungkin ada kebaikan dan manfaatnya insya Allah bagi mereka yang sedang menuju ke arah gerbang perkahwinan mahupun yang sedang merangka untuk mencari calon bagi mengisi kekosongan atau buat mereka yang tidak terasa mahu berkahwin. Ayuh, santai-santai saja :)

Dalam hidup ini, apakah perkara yang paling 'besar' dan sangat penting? Ada yang menjawab mahu mengambil jurusan apa semasa di universiti, mahu mengambil aliran apa selesai PMR atau sebagainya. Masing-masing ada perkara 'besar' dalam kehidupan, setapak demi setapak melangkah akhirnya tiba pada perkara yang menjadi turning point seorang hamba (bagi ana lah) iaitu berkahwin.

"Kak, adik tak nak jadi dewasa. Adik takut jadi macam akak, banyak sangat ujian yang akak hadapi, adik nak kekal macam sekarang je."

"Adik... Setiap orang sama ada lelaki mahupun perempuan ada ujiannya. Setiap orang ada ujian."

Sedang cuba berkongsi buah fikiran pada seorang akhawat di hadapan. Entah, dia bimbang benar dengan ana dan ana tahu kerap pula dia mengalirkan air mata untuk 'melepaskan' ana. Ana masih tersenyum, merenung ke dalam matanya.

"Maksud akak?"

"Maksud akak... Mungkin seorang muslimah itu belum bersedia nak kahwin tetapi berderet orang taqdim (melamar), jangan rasa gundah gulana. Kalau tidak bersedia, tolaklah. Dalam Islam, tidak ada istilah kahwin paksa. Bahkan perkahwinan paksa tidak sah dalam Islam."

Rasulullah s.a.w bersabda, mafhumnya: "Tidak akan berkahwin seseorang wanita sehinggalah ia meminta, dan tidak akan berkahwin seorang dara sehingga ia meminta keizinan (untuk dikahwini)." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, bagaimanakah cara untuk mengetahui keizinannya?" Baginda SAW menjawab: "Apabila ia diam." [Dikeluarkan oleh Ahmad di dalam Musnadnya (jilid 2 m/s 434), Bukhari di dalam Sahihnya (jilid 5 m/s 1974) dan Muslim di dalam Sahihnya (jilid 2 m/s 1032)].

Diriwayatkan lagi: Bahawa seorang lelaki telah mengahwini anak perempuannya sedangkan anaknya itu tidak menyukai, lalu ia bertemu dengan baginda SAW dan berkata: "Sesungguhnya bapaku telah mengahwinkan aku dengan seorang lelaki padahal aku tidak menyukainya, dan sepupuku telah pun meminangku." Maka baginda SAW bersabda: "Tiada perkahwinan padanya, kahwinlah dengan orang yang kamu kehendaki." [Riwayat Nasaie di dalam Al-Kubra (jilid 3 m/s 282)].

Daripada Khunsak binti Khizam ia berkata: "Bapaku mengahwiniku padahal aku tidak menyukainya walaupun aku masih dara, lalu aku mengadu kepada baginda SAW perkara tersebut kepada Rasulullah SAW, baginda bersabda: Jangan dinikahinya ketika ia tidak menyukainya." [Riwayat Nasaie di dalam Al-Kubra (jilid 3 m/s 282), dan Tabrani fil Kabir (jilid 24 m/s 251)].

Menyambung kembali kata-kata pada seorang akhawat yang amat ana kasihi.

"Dik, ada juga muslimah yang dah berusia dan sangat ingin berkeluarga (berkahwin) tetapi Allah ujinya dengan tidak ada yang melamarnya. Itu ujian dik. Bahkan muslimin juga sama, ada muslimin yang berhajat pada seorang gadis dan membuktikan kesungguhan betapa seriusnya dalam urusan tersebut dan taqdim melalui orang tengah atau ibubapa gadis tu, tapi gadis tu belum bersedia dan menolak. Itu juga ujian buat lelaki. Bahkan ada lelaki yang tidak berkenan pada seorang gadis yang mengejarnya, itu juga sebuah ujian."

Hidup ini satu ujian. Setiap tingkatan iman ada ujian yang berbeza, ada yang diuji dengan nikmat kemewahan dan kemiskinan, kesihatan dan kesakitan, ketenangan dan kerunsingan. Semuanya ujian, maka anggaplah semuanya ibarat semilir angin lalu yang berlalu... Menenangkan pelupuk emosi dan teruslah berlari kepada Nya, mendakap erat dalam pelukan Nya agar setiap ujian yang hadir semakin membuat kita dekat dengan Nya.

Ketenangan itu dari Allah, maka hampirilah Allah untuk mendapatkan ketenangan tersebut.

Dia, satu-satunya yang Maha Mengetahui segalanya. Ilmu kita terlalu terbatas untuk menafsir perancangan Allah, maka anggap saja ada kebaikan yang jauh lebih baik menanti kita. Bersangka baik dengan Allah.

Buat muslimah, bila lamaran datang... Janganlah gelabah sangat, kalau tidak bersedia maka tolaklah pinangan tersebut. Jika lamaran tidak juga datang-datang, insya Allah ada yang Dia mahu berikan tidak semestinya urusan jodoh, mungkin sesuatu yang lebih baik di sisi Nya.

Buat muslimin, bila lamaran di tolak... Positiflah! Mungkin dirimu belum bersedia untuk memimpin isteri dan anak-anak, maka sentiasa membaiki potensi diri supaya lebih bersedia menggalas sebuah tanggungjawab yang berat di hari kemudian. Kiranya lamaran diterima, maka bersiaplah untuk perpindahan sebuah tanggungjawab. Imam itu bukan sekadar imam solat tetapi imam dalam urusan agama, dunia sehingga akhirat. Beratkan? Maka, berusahalah menjadi yang terbaik walaupun bukan yang terbaik supaya kelak Allah memberikan yang terbaik untukmu.

Ada juga akhawat yang aktif dalam jemaah takut untuk berkahwin sehingga meletakkan pelbagai syarat. Tidak salah, perkahwinan itu sangat besar implikasinya kepada seorang wanita. Memang seorang wanita sangat berhak atas kehidupannya (urusan agama, dunia dan akhirat) bahkan memilih suami itu sama juga kita memilih aqidah. Maka, janganlah kecil hati apabila dikatakan 'terlalu memilih' kerana alam perkahwinan bukan seperti permainan. Ianya sebuah kehidupan yang penuh dengan gelombang!

Cuma, ana tersenyum lebar apabila akhawat mengatakan tidak mahu berkahwin kecuali sudah wajib untuk berkahwin. Muhasabah sendiri, hukum asal perkahwinan itu harus.

"Kenapa tak nak kahwin? Kenapa takut sangat?"

"Ramai yang bila kahwin, futur... Hanya suami yang aktif, isteri tidak lagi melibatkan diri. Blog juga berubah corak. Sebelum kahwin, terhias indah pelbagai tarbiyah dan fikrah. Selepas kahwin, gambar anak demi anak. Dari merangkak, telentang, langkah pertama semuanya di catat. Tiada lagi 'roh' perjuangan."

Senyum lagi.

Husnudzon sajalah. Teringat kata-kata seorang ukhti yang ana kasihi kerana Allah dan Rasul Nya.

"Adik, perkahwinan itu sebenarnya telah mengecilkan skop dakwah. Bila dah kahwin, lingkungan seorang perempuan itu adalah suami dan rumahnya (anak-anak dsb). Bukan lagi sahabat-sahabatnya."

Muhasabah.

Benar, sebuah perkahwinan memberi ruang dan peluang kepada seorang wanita untuk memudahkan urusannya. Gelanggang dakwah yang kononnya kecil (rumah) itu sebenarnya memainkan peranan yang teramat besar. Sebuah masyarakat bermula dengan sebuah keluarga, sekiranya peranan seorang isteri dan ibu dimainkan sebaik-baiknya oleh seorang perempuan, insya Allah akan melahirkan generasi yang berkualiti. Bukankah generasi berkualiti ini akan masuk dalam komuniti masyarakat?

Sekiranya generasi berkualiti asuhan seorang isteri dan ibu yang 'kononnya' futur di jalan dakwah ini istiqamah mentarbiyyah anak-anak dengan acuan Quran dan Sunnah, insya Allah mereka ini bukan saja aset (saham) akhirat bahkan menjadi satu tunas-tunas Islam untuk menegakkan kalimah Allah di muka bumi.

"Percaya tak kalau Syira cakap, mad'u paling memberi ujian dan juga mad'u paling berpotensi adalah isi dalam rumah. Maksudnya ahlul baeyt (ahli keluarga)?"

"Akak percaya!"

"Kenapa akak percaya?"

"Sebab awal dakwah Rasulullah juga bermula dengan keluarga, kemudian barulah secara terang-terangan."


Baiti jannati, sebelum menikmati kediaman syurga yang belum pasti layak didiami, moga taman-taman syurga (rumah tangga yang dilimpahi sakinah, mawaddah wa rahmah) di dunia akan menjadi wasilah untuk menyempurnakan kebahagiaan jiwa. Hidup ini hanya untuk dilalui BUKAN untuk diramaikan!

Ana pandang adik ana... Arh, si kecil itu selalu buat darah ana mendidih. Selalu saja menduga emosi dan bahkan terkadang menduga iman!

Mahu ketawa atau tidak, terpulang. Tetapi, untuk berdepan dengan si kecil ini... Ana TERPAKSA membelek sebuah buku yang mungkin tidak dibaca oleh sahabat seusia ana. "Psikologi : Ibubapa Muslim Profesional Berkualiti".

Dahulu, ana sangat keras. Kalau sekali dua disergah lambat solat kerana asyik melayan TV, maka dengan selamba badak sumbu ana off TV dan tarik simkad Astro. Dengan wajah masam mencuka, adik mengambil wuduk. Muncung mulutnya 2 inci... Solat dengan caranya, kemudian menjeling ana. Biasalah, merajuk.

"Adik tu kecil lagi... Tak boleh la paksa dia macam tu."

Abi menegur cara ana yang keras. Memang keras! Darah muda barangkali.


Sekarang, bila Adik lagho dengan kerja sekolah mahupun lewat menunaikan solat. Mudah saja.

"Adik dah solat?"

"Belum?"

"Kalau belum solat, kene buat apa?"

"Kena solat lah!"

"Pandainya... Habis tu tunggu apa lagi?"

Senyum jer, senyum ada makna tuh! :D

Maka, berlalulah Adik... Solat kerana tahu, kalau belum solat kenalah solat!

Tidak sia-sia ditarbiyyah oleh Allah di dalam rumah, dilatih untuk sabar dengan kerenah Adik. Bukan mudah menghidu emosi dan kelakuannya, bukan mudah untuk menukar moodnya. Semuanya memerlukan skill, tidak sia-sia buku "Psikologi : Ibubapa Muslim Profesional Berkualiti" dihadami. Berguna di masa depan, insya Allah. (",)

Akhawat ku sayang!

Janganlah menganggap perkahwinan itu memutuskan saluran untuk berdakwah. Ianya anugerah Allah kepada muslimah, gelanggangnya kecil tetapi peranannya masya Allah sangatlah besar! Para suami juga, bila 'ditinggalkan' isteri di rumah untuk gerak kerja dakwah usahlah terus membiarkan hatinya kosong, hati yang mekar dengan tarbiyyah tidak selamanya subur kalau tidak digembur dan disirami. :)

Umpama sebatang pokok. Sekali dua disiram, gembur dan baja... Maka suburlah ia. Kalau dibiarkan tanpa siraman, baja dan juga digembur tanahnya, lama kelamaan layu dan matilah ia!

Perlunya suami untuk konsisten (istiqamah) menyampaikan ilmu, menyuburkan hati isteri yang seharian sibuk dengan urusan rumahtangga. Sesekali, hatinya terusik untuk kembali ke gelanggang dakwah di luar tetapi demi kebajikan anak-anak dan cita-cita murni untuk mendidik anak-anak dengan tangan sendiri ditahan saja kemahuan hati, raikanlah hati seorang isteri dengan penyuburan ilmu agar dirinya terus merasa indahnya tarbiyyah hatta rutin hariannya mencongak dan merangka draf pendidikan anak-anak.

Apatah lagi isteri yang bekerja, peranan suami perlu lebih hebat. Tidak sekadar simpati dengan isteri yang kepenatan bekerja kemudian mengurus anak-anak pula, tetapi empati... Turut merasa apa yang dirasakan oleh isteri. :)

"Usia adik muda sangat... Terlalu muda."

Tersenyum lagi.

Tawakkal alaLLAH. Usia 45 tahun saja masih belum cukup matang, lihatlah bagaimana orang yang terlebih dahulu makan garam (patutlah hipertensi!)... Masih belum mampu mengawal emosi, tidak cukup matang!

Penanda arasnya ialah agama.

"Dan kahwinilah orang-orang bujang (lelaki dan perempuan) di antara kamu, dan orang soleh daripada hamba-hamba kamu, lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurnia Nya, kerana Allah amat luas (rahmat dan limpah kurnia Nya), lagi amat mengetahui". [Surah An Nur : 32]

Lelaki yang menjaga hal ehwal agamanya akan berusaha untuk menyempurnakan diri yang tidak sempurna, berusaha menjadi yang terbaik walaupun bukan yang terbaik! Demi sebuah tanggungjawab kerana agamanya... Maka, carilah lelaki yang menjaga urusan agamanya!

Wanita yang menjaga hal ehwal agamanya akan berusaha menyempurnakan diri yang tidak sempurna, berusaha menjadi yang terbaik walaupun bukan yang terbaik! Demi amanah dari Allah dan tanggungjawab sebagai isteri. Isteri yang solehah akan sentiasa berusaha membaiki diri untuk memenangi hati suami...! Maka, carilah wanita yang menjaga urusan agamanya!

Untung pada mereka yang benar-benar memilih kerana agama! Kelak bahtera tersasar laluan dipukul ombak besar, masih tahu memegang kompas kembali ke pangkal jalan. Insya Allah.

Dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah bersabda : "Tiga orang yang selalu diberi pertolongan Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan agama Allah, seorang penulis yang selalu memberi penawar & seorang yang menikah untuk menjaga kehormatannya." [HR Thabrani]



Friday, May 7, 2010

Serius, tiang lampu, sayur, lesung batu, penampilan diri ~~ Sebuah Memori!

Bismillahirahmanirahim..
Tetiba ilham untuk menulis datang lagi, setelah membaca entri dari ukhti tersayang, fateh.. http://fatehsultan.blogspot.com

Tajuk untuk entri kali agak unik kerana mengimbau memori yang mungkin sedikit lucu, sedikit pahit dan sedikit gembira. Walaubagaimanapun, cukup untuk kita mengambil ibrah terhadap segala aturan ALLAH.. pandanglah sesuatu perkara dengan mata hati.. nescaya bertemu hikmah yang dicari.

Berpengalaman mengikuti sebuah kem bersama sahabat sahabat memberi memori yang cukup indah. Biarpun bersama menanggung kesusahan dan keperitan semasa kem, namun kerana ukhuwah yang dibina atas kalimah LAILAHAILALLAH, diri ini dan sahabat sahabat bisa mengharungi kem yang boleh kira "tough and challenging"

Sesungguhnya ALLAH mengasihi orang orang yang berperang untuk membela agamaNYA, dalam barisan yang teratur rapi, seolah olah mereka sebuah bangunan yang tersusun kukuh (61:4)

Biar pelbagai rintangan, namun berjaya diharungi sehingga berjaya menamatkan kem yang cukup bermakna. Apabila kem telah selesai, terpancar sinar semangat baru dan kepuasan pada wajah sahabat sahabat sekalian. Berbekalkan dengan semangat baru itu jugalah, kita terus mengorak langkah dalam perjuangan ini.. malah semakin membara semangat perjuangan ini. Tahniah sahabat sahabatku!

Terdapat pelbagai peristiwa yang sukar dilupakan sepanjang kem ini berlangsung, terutama apabila setiap ahli akan dipanggil dan disuruh memberi tazkirah secara "adhoc". Tajuk tazkirah pula diberikan oleh pihak penaja. Apa lagi, pelbagai lah tajuk tazkirah yang diamanahkan dan sememangnya para sahabatku hebat hebat belaka.. bisa menghuraikan setiap tajuk yang diberikan dengan bernas
Dalam perjalanan mendaki bukit.. seorang sahabat diberikan tajuk "SERIUS"
Sememangnya sahabatku ini seorang yang jarang serius tapi menghiburkan. Maka, bergelak ketawalah kami kerana dia begitu serius menyampaikan tazkirah yang bertajuk "SERIUS". Namun di hati kecilku meyakini, pihak penaja punya matlamat sendiri. Mereka ingin melatih kami menjadi muslim super, yang tangkas berfikir dan bijak berhujah.. segalanya bukan sia sia
Pelbagai lagi tajuk tazkirah yang diberikan, antaranya adalah tiang lampu, sayur dan lesung batu,. Sahabat sahabatku begitu bijak menghuraikannya dan membangkitkan kesedaran biarpun se "simple" tajuk yang diberikan

Tiba tiba namaku diseru.. nervous juga.. diriku tidak pasti tajuk apa yang bakal diberikan

Kamu bagi tazkirah tentang penampilan diri
Aik?? Penampilan diri?? Dia ni macam tahu je hobi aku apa atau dia tahu pasal busana muslimah tu??

Alhamdulillah.. tajuk penampilan diri ku rasakan sesuai sekali dengan diriku. Sahabat sahabat yang lain pun berkata sedemikian.. Bagaimanakah agaknya mereka menentukan tajuk tazkirah yang diberikan?

Ini adalah sekadar sebahagian dari sebuah memori indah yang dilalui bersama sahabat sahabat sekalian. Biarpun hanya sekadar cerita biasa, namun setiap pengalaman itu adalah guru terbaik

~~ Daie hendaklah sentiasa bersedia, cukupkan ilmu di dada.. beranikan diri untuk berhujah dan menegakkan keadilan
~~ Indahnya berukhuwah kerana ALLAH, ingatlah sahabat dalam nadi dan doa rabithah mu, demi perjuangan ini
~~ Janganlah memandang remeh sesuatu perkara seperti tiang lampu atau lesung batu.. tidak ALLAH ciptakan sesuatu dengan sia sia.. maka berfikirlah.. otak diberikan untuk berfikir
~~ Jagalah penampilan diri sebagai seorang daie.. Jangan lupa mandi dan berus gigi (sedutan tazkirah penampilan diri ~_^)

POWER POWER POWER!!





Wednesday, May 5, 2010

Sayap Kiri Al Banna


Sebenarnya sudah lama saya mencari-cari kisah wanita muslimah di belakang Imam Hasan Al-Banna. Sukar juga sebenarnya kerana tidak banyak yg diperkatakan tentang beliau, sayap kiri As-Syahid. Alhamdulillah, suatu hari Allah mempertemukan saya dengan kisahnya, kisah yang sudah lama ingin saya ketahui.

Kita banyak membaca kisah-kisah wanita teladan dari zaman lampau, kadangkala terasa ingin mengetahui kisah zaman ini kerana situasi, latar tempat, masa dan cabarannya berbeza. Saya rasa itu penting dalam kita membaca kisah yg terdahulu, carilah juga suntikan dari zaman sendiri, kisah yang lebih dekat. Sebagaimana pesan Saidina Ali r.a.:

"Didiklah anak-anakmu sesuai mengikut zamannya"

Pesan ini menunjukkan peri pentingnya untuk kita hidup berpijak pada zaman sendiri, usah terlalu idealistik sehingga tidak realistik. Ingin saya kongsikan buat semua kisah wanita dibelakang mujahid ummah yang ulung ini. Moga bermanfaat.

Dia adalah Lathifah As Suri. Dia berdiri disamping Imam Syahid Al Banna. Sejak awal Imam Syahid telah menegaskan bahawa ia inginkan seorang muslimah yang tegar, yang tak lekang dan surut oleh banyaknya halangan dan rintangan dalam berda’awah. Tidak mudah menjadi isteri seorang Hasan Al Banna. Seseorang yang setiap detik kehidupannya sarat dengan kegiatan da’awah. Di pagi buta dia sudah bergegas untuk memulakan berda’wah dan kembali pulang di gelap malam. Boleh dipastikan ia adalah seorang muslimah sejati, yang mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Imam Syahid Al Banna.

Perjuangan Imam Syahid bukanlah suatu hal yang main-main, bukan hanya sekadar da’awah seperti kebanyakan orang waktu itu. Bukan hanya sekadar membangun rumah ibadat. Imam As- syahid sedang dan hendak membangun sebuah peradaban. Dan ia percaya, peradaban tak akan pernah wujud, tanpa seseorang yang ia yakini kesetiaannya. Maka siapapun itu-pendampingnya-harus menyedari bahawa dipundaknya ada amanah yang sama besarnya dengan apa yang di impikan oleh Imam Syahid. Ada dimensi waktu disitu. Maka pertemuan diyakini menjadi suatu hal yang mahal bagi Imam Syahid dan isterinya. Maka bagi Lathifah As Suri menjadi isteri Hasan Al Banna menyimpan begitu banyak cabaran. Sejak awal pernikahan, Lathifah sudah menyedari bahawa dia harus bersedia jika sampai waktu dia harus menjalani hidup bersendirian tanpa seseorang, tempat berlabuh hidup dan cintanya.

Da’wah & Rumah Tangga

Da’wah Ikhwan yang dipimpin oleh suaminya banyak meminta risiko yang bukan ringan-ringan. Penjara bahkan nyawa menjadi penamat logik, yang bila-bila masa boleh menyapanya. Tanpa diminta, Lathifah sudah tahu dan mengerti bagaimana ia harus menempatkan dirinya. Ia memutuskan menutup seluruh aktiviti luarnya. Hanya satu yang ia curahkan, jihad utamanya adalah dilingkup rumahnya sendiri. Mengurus rumah tangga dan membesarkan anak-anak mereka berdua adalah dua hal yang tidak kalah pentingnya dengan yang dilakukan oleh Hasan Al Banna.

Sebelum menikah dengan Hasan Al Banna, Lathifah berasal dari keluarga yang taat beragama. Hingga tak hairan jika ia menyedari betul tuntutan hidup menjadi isteri seorang daie. Malam, dia harus rela untuk terbangun menyambut kepulangan suaminya. Walau jarang-jarang berlaku, Imam As-Syahid sangat berhati-hati, bahkan hanya untuk membuka pintu rumahnya sekalipun. Jauh dilubuk hatinya, Imam As- Syahid tidak ingin mengganggu tidur bidadari kekasihnya yang telah seharian mengurus rumah dan anak-anak mereka berdua. Imam As- Syahid bahkan tak segan untuk menyiapkan makan malam untuk dirinya sendiri.

Wanita, Isteri & Ibu

Lathifah tidak pernah mengeluh, walau seharian hanya ia habiskan seputar rumah dan rumah saja. Ia tidak pernah menuntut lebih kepada Imam As- Syahid. Padahal, Lathifah pun -berlepas diri dari ia seorang isteri Imam As- Syahid- menyimpan banyak potensi. Anak-anak mereka yang berjumlah enam orang sesungguhnya adalah curahan tumpuannya menjalani hidup. Satu-satunya yang pernah membuat dirinya bingung adalah, ketika salah satu anak mereka sakit kuat dan Imam As- Syahid perlu tetap menjalankan jihadnya. Ia bertanya kepada suaminya,”Bagaimana jika ia meninggal?”. Imam As-Syahid hanya menarik nafas panjang, dan kemudian berkata “Bapa saudaranya lebih tahu bagaimana mengurusnya.” Sejak hari itu, Lathifah menanamkan wawasan keIslaman kepada anak-anaknya. Mendorong mereka untuk membaca, sehingga dalam hidupnya mereka tidak terpengaruh dengan seruan-seruan yang meruntuhkan. Ketika Imam As-Syahid keluar-masuk penjara, Lathifah berusaha bersabar .

Lathifah sangat menyedari peranan dan kewajiban asasi seorang wanita sebagai isteri dan ibu bagi anak-anaknya. Dia mengosongkan waktunya untuk mendidik anak-anaknya. Dia bahagia melihat anak-anaknya berjaya dalam hal akhlak dan amal. Ini tak mungkin terjadi jika seorang ibu sibuk di luar rumah. Seorang anak tidak mungkin belajar tentang akhlak dan amal dari orang selain ibunya. Ketika Hasan Al-Banna syahid, anak-anaknya belumlah dewasa. Lathifah tidak lantas menyerah. Tak ada resah ataupun ketakutan dalam hatinya. Ia sangat memelihara apa yang dikehendaki oleh almarhum suaminya. Ia tetap berusaha didalam rumah. Lathifah tidak meremehkan hudud (batasan) yang Allah tentukan. Kerananya, tidak hairan diantara anak-anaknya tidak ada ikhtilat (percampuran) - antara anak-anaknya dan sepupunya yang berlainan jenis.

Pengetahuan & Perjuangan
Tidak ada yang berubah dirumah itu, apa yang Imam As-Syahid inginkan berlaku dalam keluarganya masih tetap di pegang teguh oleh Lathifah. Sendirian, ia membesarkan keenam anaknya. Dirumahnya kini ia mempunyai tugas tambahan, yaitu memperdalam wawasan keIslamannya.Yang dimaksud dengan wawasan keIslamannya adalah membaca Al-Quran dengan tafsirnya, mempelajari Sunnah Rasulullah SAW, haditsnya dilanjutkan dengan usaha kuat untuk menerapkannya. Lathifah juga masih menyempatkan diri mempelajari sejarah para salafussalih dan berita dunia Islam. Lathifah menyedari mengenepikan masalah ini akan menghasilkan persoalan serius. Seorang yang tidak menambah pengetahuan keIslamannya, akan merasa sulit untuk bangga dengan keagungan dan kebesaran Islam. Dengan melalui pemahaman keIslaman yang baik, seorang wanita akan menyedari betapa penting peranannya terhadap keluarga dan masyarakat.

Perjuangan Lathifah membuahkan hasil yang gemilang. Semua anaknya berjaya meraih kelulusan formal dalam pendidikan ilmiah. Yang sulung, bernama Wafa-menjadi isteri Dr.Said Ramadhan. Kedua Ahmad Saiful Islam, pernah duduk di parlimen. Ketiga bernama Tsana, kini sebagai pengajar di Universiti Cairo. Kelima Roja, kini menjadi doktor. Dan Halah sebagai doktor pakar anak di Universiti al-Azhar. Dan terakhir, Istisyhad sebagai doktor ekonomi Islam. Semuanya itu sebagai bukti, betapa berertinya peranan Ibu bagi keberhasilan da’wah sang suami. Selain juga untuk anak-anaknya…..




Buat saya dan kalian


Kisah Lathifah, bidadari hidup As-syahid Hassan Al-Banna boleh kita jadikan contoh untuk membakar spirit perjuangan kita, banyak lagi kisah-kisah srikandi yang lain.

Andai dipanjangkan umur, perjalanan hidup kita masih jauh, saat ini masih di kampus, 2,3 tahun mendatang alam baru akan ditempuhi. Saya menyeru diri dan teman-teman, kita perlukan persiapan yang kukuh untuk sebuah perjuangan hidup yang panjang. Saya kira kita tidak perlu segan unutuk berbicara tentang Baitu Da’wah yang akan masing-masing kita bina.



Tapaknya adalah kefahaman Islam yang sebenarnya, memahami tuntutan sebuah perjuangan, bukan tuntutan nafsu, kerana ‘Istana’ yang dibina ini juga adalah wasilah untuk kita ke syurga.
Saya dan kalian punya dream yang berbeza, namun pokoknya adalah biar Bait Da’wah yang dibina ini makin menguatkan langkah perjuangan kita, malah menjadi tapak untuk lahirnya generasi yang akan menyambung perjuangan agar Islam kan terus gemilang dengan pendokong-pendokongnya.
Buat akhawat, siapkan diri sepenuhnya kerana kita akan menjadi sayap kiri dalam Bait Da’wah nanti. Andai masa ini kita masih lagi bersikap sambil lewa terhadap amalan diri , kurangnya ilmu, kurang berdisiplin, bersikap negatif..mungkin Bait Da’wah yang akan kita bina nanti hanya tinggal angan kosong.

Moga kita akan menjadi seperti Lathifah, tegar di sisi A-syahid Imam Hassan Al-Banna..
Ya Allah, jadikanlah kami srikandi sejati yang menyedari dan memahami tuntutan perjuangan Islam, tidak kan meletakkan kepentingan peribadi melebihi kepentingan Ummat, kurniakanlah kami cinta-MU sehingga kami tidka kan pernah meminta cinta selain-MU, dan tidakkan kami goyah pada cinta dunia ini kerana hebatnya rasa penggantungan dan rasa Cinta pad-MU..

~ Jundatulllah~

Syukran ya ukhti atas perkongsian ini. Semoga diriku dan dirimu bisa menjadi sekental Lathifah dan menjadi sayap kiri perjuangan mujahid sejati..
Http://Jundatullah.blogspot.com
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...